Langsung ke konten utama

Esai tema “Optimalisasi Potensi Lokal dalam Mendukung Sustainable Development Goals (SDGs)”

        Diversifikasi Pangan Mendukung Tercapainya SDGs

Nama                    : Riza Afifah Cahyamurti
NIM                       : 16/396971/09729
Fakultas               : Biologi
Angkatan             : 2016

‘Hidup matinya bangsa ditentukan oleh ketahanan pangan negara’- Bung karno.
Pangan adalah hal terpenting dalam pemenuhan kebutuhan manusia untuk bertahan hidup. Pangan yang mengandung zat-zat penting (karbohidrat, protein, lemak, zat besi, vitamin) menjadi paling esensial dalam mencapai kesehatan dan kesejahteraan. Pangan juga merupakan simbol kesejahteraan dan kemakmuran suatu individu.
 Indonesia adalah negara agraris. Lebih dari sepertiga penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. Tanah di Indonesia memiliki tingkat kesuburan tinggi, banyak zat-zat hara yang diperlukan oleh tumbuhan, sehingga tidak heran jika ada yang mengatakan ‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’. Menurut FAOSTAT (2014), Indonesia menduduki nomor tiga penghasil beras terbesar di dunia, Indonesia memproduksi 70.600.000 ton pertahunnya. Dengan fakta tersebut, Indonesia bisa swadaya pangan. Namun yang ada sekarang, Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri akan beras sehingga masih mengimpor bahan makanan dari negara luar seperti Thailand. Indonesia juga disebut sebagai salah satu negara penghasil karbon terbesar akibat bercocok tanam padi.
Untuk mencapai tujuan yang terangkum dalam SDGs butir 2 yaitu, mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi, dan mempromosikan pertanian berkelanjutan perlu diadakannya penganekaragaman atau diversifikasi sumber bahan makanan. Sehingga tidak bergantung pada beras saja.Keanekaragamaan sumber bahan makanan yang ada di Indonesia ini seharusnya dapat menjadi bahan nasi non beras yang pada akhirnya untuk mencapai ketahanan pangan. Sumber makanan non beras umumnya bahan yang memiliki kandungan hampir sama dengan beras. Sumber bahan nasi non beras dapat berupa umbi-umbian, shorgum, jagung, dan lain-lain.
Diversifikasi tidak hanya mendukung tercapainya tujuan dalam SDGs butir 2, namun juga butir 8 yang isinya adalah  mendorong pertumbuhan ekonomi yang terus menerus, inklusif, dan berkelanjutan, serta kesempatan kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua orang. Jadi dengan adanya diversifikasi atau penganekaragaman bahan pangan, dapat menciptakan lapangan kerja baru dalam penanamam maupun dalam pengolahan bahan nasi non beras. Sehingga tidak ada lagi kemiskinan seperti yang canangkan PBB dalam SDGs nomor 1 yaitu mengakhiri segala bentuk kemiskinan dimanapun.
Diversifikasi pangan di Indonesia tidak terlepas dari tantangan-tantangan dan juga kendala-kendala. Tantangan penganekaragaman pangan misalnya dari pengolahannya. Saat ini beras dipilih menjadi bahan utama pangan karena pengolahannya langsung, dari beras kemudian dimasak langsung dapat dimanfaatkan. Sedangkan bahan-bahan seperti ketela dan jagung, untuk menjadi tren bahan makanan, harus melalui beberapa pengolahan. Tantangan yang lain adalah rasa dari beras itu sendiri. Rasa khas beras yang agak manis menjadikan beras sebagai bahan makanan yang saat ini belum tergantikan secara total. Dari hal tersebut kita tertantang untuk menjadikan bahan pengganti beras memiliki cita rasa yang tak kalah dengan beras.
Beras menjadi bahan makanan utama di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Anggapan masyarakat kalau belum makan dengan nasi dari beras belum dinamakan makan berat. Untuk itu kita harus menyadarkan masyarakat bahwa hal tersebut adalah salah dan memberi pengetahuan tentang makanan pengganti non beras memiliki kandungan gizi yang hampir sama dengan beras.
Kendala pengembangan penganekaragaman adalah teknologi dan ilmu pengetahuan. Di Indonesia sudah tesedia sumber daya alam sebagai bahan baku utama diversifikasi pangan, namun untuk mencapai diversifikasi pangan perlu adanya teknologi dalam mengolah bahan makanan tersebut. Saat ini bahan makanan seperti umbi hanya diolah dengan car direbus ataupun digoreng saja. Padahal ketela maupun umbi-umbian dapat diolah menjadi berbentuk beras.
Dengan mengoptimalkan sumber daya alam lokal Indonesia, Indonesia siap mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals untuk tahun 2016-2030 yang digalakkan PBB. Diharapkan Indonesia dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan pangan dan dapat mengekspor bahan-bahan pangan ke luar negeri. Indonesia siap menjadi negara maju, tidak ada lagi kelaparan dan kemiskinan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Masih) Hari Pertama

Hari pertama Perpram (Perkemahan Pramuka) sangat memberikan arti tersendiri bagiku. Aku mau bagi cerita nih tentang hari pertama Perpram. Berangkat dari sekolah sekitar pukul 13.30 dengan upacara pelepasan di Lapanagn Basket. Kami berangkat dengan menggunakan bus angkutan umum. Barang bawaan pribadi maupun kelompok, kita titipkan di pick up salah satu teman kami. Sepanjang perjalanan kami lalui dengan bersuka cita.  Sampai di bumi perkemahan Sinolewah kira-kira jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Kami disuruh segera mendirikan tenda dan bagi yang muslim untuk sholat ashar terlebih dahulu. Kami di suruh untuk saling membantu antar sangga dalam mendirikan tenda ini. Setelah tenda berdiri tegak, kami melaksanakan apel sebagai upacara pembukaan Perpram ini. Kami diberi waktu untuk ISHOMA sampai jam 19.30. Jelajah malam kami lakukan setelah ISHOMA. Nah, dalam jelajah inilah yang menurutku bagian paling seru. Jelajah malam dilakukan bersama sangga kita. Sebelumnya kita perkenalan ...

Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?

Keluar dari zona nyaman. Memang sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat-sangat sulit untuk dilakukan. Misalnya, jika kamu udah terbiasa di dalam lingkaran itu, padahal di luar banyak banget lingkaran –lingkaran di luar lingkaranmu itu. Tapi di lingkaran yang kamu diami itu kamu nggak bisa berkembang. Kamu ya kamu, nggak bisa melihat dunia luar. Diam di tempat. Nah biar kamu bisa berkembang kamu harus keluar dari lingkaran itu. Dengan kata lain keluarlah dari zona nyamanmu! Pengen berbagi cerita aja di postingan ini. Dulu waktu wawancara anak panti, mbak Isi namanya, ngasih pesan untuk kita. Dia berpesan, keluarlah dari zona nyamanmu. Sebelumnya aku juga pernah dengar dari temen, untuk menjadi lebih akrab dalam suatu kelompok cara ang paling ampuh adalah keluar dari zona nyaman. Pertama dengar kata-kata itu, aku masih kopong, nggak dong apa yang dimaksud, tapi setelah aku pahami, aku menyetujui bahkan sangat menyetujui pernyataan itu. Kemarin waktu ngumpul di KR, juga ditekani...