Aku tak tau mengapa semua jadi begini. Semenjak dia datang
di kehidupanku, keluarga ini jadi nggak
perhatian lagi sama aku. Semua perhatian orangtuaku direbut dia. Pembawa sial.
Kata orang, punya adek itu menyenangkan, tapi nggak bagiku. Hanya akan menjadi
masalah aja. Entah kenapa dulu sebelum si pembawa sial itu lagi, Mama sama Papa
sangat sayang padaku, tapi sekarang yang dipentingan dia. Kenapa ini terjadi
padaku?
Hari ini tanggal 18 Februari 2015 dan besok usiaku genap
tujuh belas tahun. Sweet seven teen, orang bilang. Tahun terpenting dalam
hidup.
Pagi ini kuawali dengan bangun pagi-pagi terus mandi lalu
ibadah sholat subuh. Nyiapin buat nanti sambil senyum-senyum bayangin hari
besok. Pasti Mama Papa udah nyiapin aku surprise yang sampai nggak bisa aku bayangin.
Di rumah sepi, mungkin mereka mau
nyiapin pestanya diluar rumah. Aaah, asik banget pesta diluar rumah. Rasanya
udah nggak sabar pengen bertemu hari esok.
Jam tanganku menunjukkan waktu 06.25. Aku segera bergegas
turun ke lantai bawah dan menikmati sarapan bersama keluarga. Seperti biasa,
udah ada Mama, Papa, dan si pembawa sial itu. Manja banget minta disuapin, udah
SD juga. Manja.
“Ma, Denis mau yang ituu.” Ku dengar dengan suara manja
keluar dari mulut anak itu. Menjadikan aku mengingat waktu aku kecil dulu. Apa
semanja itu? Kurasa tidak.
“Eh Farah, udah siap ke sekolah, Sayang?”, Mama yang masih
sibuk nyuapin, menanyaiku pertanyaan yang nggak perlu ditanyakan. Membuyarkan
lamunanku.
“Eheh, udah Ma.”, jawabku singkat.
Papa yang masih sibuk dengan koran paginya, acuh akan
kedatanganku. Papa emang pendiem, tapi pendiemnya ilang kalau udah sama Denis.
“Yaudah sarapan gih, ntar telat lho.”, Mama mengingatkan
lagi.
“Iya loh kak. Ntar kalau Kak Farah nggak sarapan, ntar
kurus. Iya nggak Pa? Hahaha.”, Denis yang sejak tadi main game sambil sesekali
manja minta disuapin, nimbrung. Dia lagi, dia lagi.
Papa yang sejak tadi sibuk dengan korannya, dan tak
menanggapi aku, ikut tertawa bersama anak tercintanya. Aku bahagia kok Pa, liat
Papa tertawa gitu, walaupun tertawanya bukan denganku.
Aku akhirnya mengambil selembar roti, lalu kuolesi dengan
selai selai kesukaanku, coklat. Dengan enggan, ku roti itu ku makan padahal
sebenarnya rasa laparku udah menguap gara-gara guyonan garing Denis tadi.
***
Jam menunjukkan pukul 23.45. Tapi tadi aku lihat Mama sama
Papa udah tidur. Apakah mereka lupa ulang tahun anaknya? Tidak mungkin, masak
oangtua lupa sama ulang tahun anaknya sendiri? Jarum jam terus bergerak dan
sekarang sudah jam 23.56.
Pukul 00.02. Nggak ada suara,sepi. Hanya suara mesin motor
yang kadang-kadang lewat. Mana orangtuaku? Apakah mereka emang lupa beneran.
Aku keluar kamar,berharap diluar ada surprise buat aku. Diluar juga sepi.
Aaaaah. Apakah setega ini sampai ngucapin pun tidak? Mereka jahat. Aku
menangis. Aku kembali ke kamar, melihat kalender. Bener kan ini tanggal 19
Februari?
***
Setelah menyelesaikan urusan di kamar aku segera berangkat
ke sekolah tanpa menuju ruang makan. Mengeluarkan motor dari bagasi, dan
bersiap pergi kesekolah. Huh malang, hari ini kan Mbak Tijah nggak masuk, jadi
hari ini Mama yang masakin. Mama di depan rumah lagi asik membeli sayur.
“Loh kamu kenapa nggak sarapan dulu?” Tanya Mama setelah
sampai di dekatku.
Aku diam. Males ngomong.
“Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?”
Aku yang masih sibuk ngeluarin motor dari bagasi, tak
menggubris ucapan Mama. Mama menempelkan tangannya ke dahiku.
“Kamu nggak panas. Kamu kenapa e?” Aku masih diam.
“Sayang..” Mama memanggilku lagi.
“Aku nggak kenapa napa.” Jawabku ketus.
“Kamu kok gitu? Ada masalah apa?”
“Nggak usah sok perhatian gitu deh Ma. Sana urusin Denis
aja, aku nggak usah diurusin, aku kan bukan anaknya Mama”
Kurasakan tangan mendarat di pipiku. Mama menanparku. Emang
salah aku bilang gitu? Kalau ulang tahun anaknya aja lupa.
“Ma, iya aku tau Denis kelainan mental. Aku tau Ma, Denis
butuh perhatian lebih. Tapi aku juga
butuh perhatian dari Mama, dari orangtuaku. Mama nggak tau kan hari ini aku
ulang tahun.” Air mataku menetes dari pelupuk mata, melewati pipi dan jatuh ke
lantai.
Mama tiba-tiba memelukku, menangis.
“Maafin Mama sayang. Mama salah. Mama lebih mentingan
Denis. Mama janji nggak ngulangin kesalahan Mama lagi. Selamat ulang tahun ya
Sayang. Mama sayang Farah.”
Komentar
Posting Komentar