Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Aku VS kamu

Musuh. Rival. Memang terdengar negatif. Yaah memang sih sebenarnya kita dilarang untuk bermusuhan. Tapi ya gimana lagi. walaupun kita udah baik-baik pasti ada yang nggak suka sama kita. Aku sendiri juga pernah ngalamin ini. Kayaknya udah ngelakuin yang bener, nggak aneh-aneh. Ehhh ya ada juga yang nggak suka sama aku. Sampai sekarang! Eh malah jadi curhat, kembali ke topik ah. Bahas lagi. Musuh memang ditakdirkan untuk ada kali ya. Kayak mirror nya kita, kalau kita ada di koordinat plus pasti ada juga kan yang berada di koordinat minus. Musuh selaluuu nyebelin, musuh nggak nyebelin itu pas musuh mau membuka perangkap biar kita bisa masuk. Pura-pura baiklah lebih tepatnya. Biar tau kelemahan kita. Hati-hai kalau musuh kita tiba-tiba jadi baik, wkwk. Bisa jadi dia lagi membuka jaringnya. Oiya, kalau musuh lagi baik, jangan pernah terbuka sama musuh. Itu sama aja penyerahan diri. Kayak masukin bola ke gawang sendiri. Mati deh.          ...

Lucu (menurutku) Saja

Aku pengen berbagi cerita (menurutku lucu) aja nih. Dalam bulan suci Ramadhan ini, kan kita disunahkan untuk sholat tarawih di malam hari. Kalau cewek atau akhwat sunahnya memang berjamaah di rumah untuk menghindari fitnah. Rumahku kan dekat dengan mushola, dan dirumah memang sepi, kakak sama ibuku udah berangkat ke mushola. Jadi di rumah aku sendiri, yaudah terpaksa aku pergi ke mushola. Suara iqamah tanda dimulainya sholat sudah terdengar. Aku masih di rumah dan belum wudhu. Aku segera ambil air wudhu. Cepat-cepat aku ke mushola yang berada di depan rumahku keburu imamnya sudah ruku’. Sampai di muhola untungnya imamny masih baca surah Al-Fatihah. Nah ini yang menurutku cerita lucunya, disini tepatnya. Kan aku baru masuk mushola lewat pintu samping, di dalam mushola shaf akhwat hanya ada dua shaf. Shaf pertama belum penuh hanya setengahnya saja. Aku bingung mau sholat dimana, shaf pertama atau kedua. Tiba-tiba, seakan tahu apa yang aku pikirkan, simbah-simbah yang udah sholat di shaf...

Pantai Kuwaru

Menunggu sampai kapan? Laut yang diam menyimpan beribu rahasia Wow! Abrasi sepanjang pantai Ombak besar yang menerjang pantai Menikmati pagi dengan memancing ikan Cemara di sepanjang pantai Menyusuri pantai selatan memang seperti tak ada habis-habisnya. Ombak yang tak pernah bosan menyeret pasir di pantai. Seakan mengajak bermain bersamnaya. Laut yang diam menyimpan beribu rahasia laut. Mentari pagi hangat menyinari melengkapi keindahan pantai.                 Pagi ini hari Jumat tanggal 3 Juli 2015, aku bersama keluargaku jalan-jalan ke pantai sekedar refreshing sekaligus olahraga. Rumahku dengan pantai memang dekat hanya berjarak sekitar 7 kilometer. Tujuan kami pun hanya ke pantai Kuwaru. Pantai yang terletak di kecamatan Srandakan ini menawarkan pemandangan yang sangat-sangat indah. Untuk hari-hari seperti ini memasuki kawan pantai tidak dipungut biaya atau gra...

Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?

Keluar dari zona nyaman. Memang sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat-sangat sulit untuk dilakukan. Misalnya, jika kamu udah terbiasa di dalam lingkaran itu, padahal di luar banyak banget lingkaran –lingkaran di luar lingkaranmu itu. Tapi di lingkaran yang kamu diami itu kamu nggak bisa berkembang. Kamu ya kamu, nggak bisa melihat dunia luar. Diam di tempat. Nah biar kamu bisa berkembang kamu harus keluar dari lingkaran itu. Dengan kata lain keluarlah dari zona nyamanmu! Pengen berbagi cerita aja di postingan ini. Dulu waktu wawancara anak panti, mbak Isi namanya, ngasih pesan untuk kita. Dia berpesan, keluarlah dari zona nyamanmu. Sebelumnya aku juga pernah dengar dari temen, untuk menjadi lebih akrab dalam suatu kelompok cara ang paling ampuh adalah keluar dari zona nyaman. Pertama dengar kata-kata itu, aku masih kopong, nggak dong apa yang dimaksud, tapi setelah aku pahami, aku menyetujui bahkan sangat menyetujui pernyataan itu. Kemarin waktu ngumpul di KR, juga ditekani...

Melelahkan Banget atau Melelahkan Aja (?)

Hari ini (Minggu, 28 Juni 2015) menurutku sangat-sangat melelahkan. Dimulai dari bangun tidur untuk menyantap sahur, sekitar jam 04.00. Ibuku sebenarnya sudah mbangunin aku sebelum itu, tapi gara-gara aku ngnatuk banget plus magernya nggak ketulungan jadinya aku bangun sekitar jam 04.00. Aku langsung makan dengan lahap dan minum air putih dengan buru-buru soalnya waktu imsakiyah sudah dekat. Setelah makan dan minum, aku segera gosok gigi dan melanjutkan tidur, hehe. Waktu tidur paling enak tu ya jam segini, sekitar jam adzan subuh. Aku bangun sekitar jam lima. Bangun, wudhu, sholat, tidur lagi, wkwk. Terus bangun lagi jam 08.00 dibangunin ibu karena ibuku juga sudah tahu kalau hari ini aku ada acara jam 10.00. Waaa, untung ibuku bangunin aku, kalau enggak mungkin adzan dzuhur baru bangun. Makasih ibu.                 Sekitar jam 08.20 aku baru selesai mandi. Terus nyipain baju yang mau dipakai ke acara di Jogl...

Dalam Diam (6)

Kini aku sudah genap satu tahun lulus dari SMA, jenjang sekolah yang memberiku cerita-cerita manis hingga cerita pahit. Aku duduk di gazebo tengah universitasku. Bernostalgia dengan pikiranku saat aku SMA dulu. Mengingat sebegitu kuatnya hatiku menyimpan rasa itu dalam diam. Tiba-tiba ponsel ku bergetar pendek, tanda sms masuk. Aku membuka handphoneku. Kulihat layar utama pada handphoneku, sms dari Karel. ‘Kutunggu di taman tengah’ begitu isi dari sms Karel. Aku segera membereskan buku-buku ku. Beranjak dari gazebo menuju taman tengah universitasku. Aku dan Karel kini satu fakultas. Dia kakak tingkatku, dan aku adalah adek tingkat. Kami selisih dua semester.  Hubungan kami pun menjadi dekat, tidak seperti dua tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu, saat aku masih malu-malu dengan perasaan ini. Dua tahun yang lalu saat Karel masih bersama dengan Mbak Nabila. Saat aku masih memendam rasa ini dalam diam. Kulihat dari jauh, seorang laki-laki seperti sedang menunggu di kursi taman....

Dalam Diam (5)

Aku duduk di halte menunggu bus Trans Jogja yang akan mengangkutku menuju halte dekat rumahku. Sore ini mendung hitam menyelimuti kota ku. Aku tak bisa lama-lama berada di sekolah, sebelum hujan turun, aku sudah harus berada di rumah atau setidaknya perjalanan pulang. Sambil menunggu bus 2A sampai, aku memutar lagu kesukaanku. Memutar lagu Dear Diary milik grup band Mocca membuat suasana hati menjadi sedikit tenang. Namun masih saja gelisah karena hujan segera turun. Aku tak menyukai hujan. Dulu aku sangat menyukai hujan, karena bisa bermain air saat hujan. Tapi sejak dua tahun lalu, aku membenci hujan. Ah sudahlah, aku tak ingin mengingat peritiwa dua tahun yang lalu. Aku melihat sekeliling halte. Kendaraan berlalu lalang dihadapanku. Tak ada yang ku kenali. Ku amati jalanan dari arah gerbang sekolah. Aku melihat motor bebek warna hitam. Sepertinya aku mengenali motor itu. Karel! Ya itu motor Karel. Kulihat dari jauh Karel memboncengkan cewek berkedurung panjang. Mbak Nabila. Tak...

Bingung

Bingung ingin terus mendesakku Ke dalam kegelapan Bingung terus merayu Untuk mengikutinya Menginginkanku untuk meneruskan jejaknya Bingung kini ada di depan Jauh di sana, meninggalkanku Aku tersadar, aku bangun Dari kebingunagn dan kebimbangan Kegalauan yang merasuk dalam jiwa Aku menemukan pintu akhirnya Pintu jalan keluar! Dari kebigungan yang merasuk dalam jiwa

Dalam Diam (4)

Tak sadar air mineral yang aku bawa jatuh vertikal ke lantai. Wadahnya pecah dan isinya pun  menyebar kemana-mana. Duh malu. Malu banget. Malu diliat Karel. Walaupun basahnya itu nggak seberapa tapi malunya itu,lebih dari basahnya. Ceroboh banget sih aku. Cuma gitu aja sampai tumpah airnya. “Ihh Farah. Basah kan rokku.” Nana protes akan roknya yang basah gegara air mineral yang malang. “Hehe. Maaf ya Na, nanti kering sendiri kok.” Aku masih ngecek rokku yang kena air mineral. Nana juga sibuk dengan roknya. Tiba-tiba Karel berjalan ke arah kami, dengan tanggap segera memungut bangkai air minum yang isinya udah ga karuan. Membuangnya ke tempat sampah kantin. Dan berlalu pergi meninggalkan kami. Aku yang masih terbengong belum percaya kalau dia Karel setanggap itu. Aku yang harusnya yang membuang sampah itu malah asik dengan rokku. Setelah dirasa cukup, kami pun pergi meninggalkan kantin menuju ruang kelas. “Kamu kok bisa gitu e Far? Kamu ada hubungannya sama Kak Farel? Nan...

Dalam Diam (3)

Pagi ini kuawali pagi dengan bangun pagi-pagi tak seperti biasanya. Pukul 04.00 tepat handphoneku menyalak, membunyikan alarm yang sudah sejak tadi malam aku setel. Kuambil air wudhu di kamar mandi. Air wudhu yang dingin seperti air es membasuh wajahku, membangunkanku yang masih setengah sadar. Setelah wudhu, aku segera menuju mushola. Ku gelar sajadah warna ungu kesukaanku. Kudirikan sholat dua rakaat. Bersujud kepada Yang Maha Kuasa. Bercerita tentang cita-cita keinginan, menangis di atas sajadah. Setelah sholat Tahajud dan melanjutkan shoat subuh, aku beranjak menuju kamar. Belajar materi untuk nanti dan mengulangi materi kemarin. Uhh, teringat kembali sepasang bola mata yang bertemu dengan sepasang bola mata. Mata yang teduh kemarin belum bisa hilang dari ingatanku. Menyejukkan. Mengingatnya, membuatku tak fokus pada materi yang aku baca. Semakin ingin menghilangkan bayangannya dari pikiranku, semakin ingatan itu kuat. Akhirnya pagi ini tidak konsen belajar materi buat nanti. ...

Dalam Diam (2)

Dua fakta yang aku dapatkan saat ini. Pertama, nama kakak kelas cowok yang aku suka selama setahun ini namanya ada kata ‘Rel’ nya. Fakta kedua yaitu, Mbak Nabila deket dengan Karel. Karel adalah sebutan untuk kakak kelas cowok itu. Karena nggak tau nama lengkapnya jadi aku panggil kakak kelas itu ‘Rel’. Dan karena itu kakak kelasku, wajib di tambahin ‘Kak’. Jadi aku kasih nama Karel, gabungan antara Kak dan Rel. Mbak Nabila yang menurutku kakak kelas paling dekat dengan aku karena kami satu organisasi dan aku yakin dia paham betul batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan karena dia adalah pengurus remas di sekolah kami lagi berduaan di pojok perpustakaan sekolah dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Apa jangan jangan... Farah, stop negatif thinking! Bisa aja kan mereka diskusi tentang agama, ataupun pelajaran ataupun yang lainnya. Terserah mereka dong. Pikiranku beradu pendapat. Pikiranku mulai berprasangka buruk pada kedua kakak kelasku. Aku terus mengamati mereka yang s...

Dalam Diam (1)

“Mau sih mau.” “Apa tapinya?” “Tau aja kalau ada tapinya." Hening. Hanya suara jarum jam yang bergerak melakukan rutinitasnya. "Tapinyaaa.. kamu juga harus mau jadi kakakku.” *** Siang menjelang sore. Sehabis pulang sekolah, menuju perpustakaan sekolah untuk sekedar refreshing sekaligus belajar buat besok. Setelah menitipkan tas di penitipan tas, seperti biasa aku memilih tempat duduk pojok yang sepi dari pengunjung. Uhh, ternyata sudah ada penghuninya. Kakak kelas yang selama setahun terakhir ini aku suka sudah dengan enjoynya duduk di kursi kesayanganku bersama buku yang dia pegang sambil terantuk-antuk. Manis, putih keren walaupun banyak yang bilang pendek. Selama setahun ini juga aku belum tahu namanya, maklum karena kita tidak seangkatan dan menurutku nama itu tidaklah penting. Karena mencintai dalam diam akan lebih indah daripada cinta yang terpublikasi. Akhirnya aku pun duduk di seberang kursi kesayanganku. Aku dengan kakak kelas cowok itu terpisah poj...