Aku pengen berbagi cerita (menurutku lucu) aja nih. Dalam bulan
suci Ramadhan ini, kan kita disunahkan untuk sholat tarawih di malam hari. Kalau
cewek atau akhwat sunahnya memang berjamaah di rumah untuk menghindari fitnah. Rumahku
kan dekat dengan mushola, dan dirumah memang sepi, kakak sama ibuku udah
berangkat ke mushola. Jadi di rumah aku sendiri, yaudah terpaksa aku pergi ke
mushola. Suara iqamah tanda dimulainya sholat sudah terdengar. Aku masih di
rumah dan belum wudhu. Aku segera ambil air wudhu. Cepat-cepat aku ke mushola
yang berada di depan rumahku keburu imamnya sudah ruku’. Sampai di muhola
untungnya imamny masih baca surah Al-Fatihah. Nah ini yang menurutku cerita
lucunya, disini tepatnya. Kan aku baru masuk mushola lewat pintu samping, di
dalam mushola shaf akhwat hanya ada dua shaf. Shaf pertama belum penuh hanya
setengahnya saja. Aku bingung mau sholat dimana, shaf pertama atau kedua. Tiba-tiba,
seakan tahu apa yang aku pikirkan, simbah-simbah yang udah sholat di shaf kedua
menunjuk-nunjuk dengan tangannya ke arah depan sambil pandangannya ke arah
sajadah. Tambah bingung aja, ini simbahnya memang nunjukin buat aku atau memang
tangannya ga sengaja keluar nunjuk-nunjuk. Aku masih diam, ingin melihat
reaksinya lagi. eh ternyata memang bener, simbah-simbahnya tadi memang
nunjuk-nunjuk ke shaf pertama, tandanya menyilakan aku untuk di shaf pertama. Dilakukannya
sambil sholat! Gimana nggak hebat tuh. Wkwkwk. Seketika itu aku tertawa dalam
hati lucu juga ya, sholat sambil nunjuk-nunjuk tangan buat menyilakanku. Padahal
kalau dalam sholat, gerakan tambahan diluar sholat maksimal tiga gerakan.
Satu satu sudah Allah kasih kesempatan untuk melangkah lebih jauh, memberi manfaat yang seluas luasnya. Sarjana sains. Dwri lubuk hati yang terdalam, tidak dapat dipungkiri bahwa ada keirian, tapi itu pasti. "Kenapa aku belum?" "Kenapa harus aku?" "Kenapa Allah belum ngasih kesempatan?" Banyak pertanyaan yang tak butuh jawaban. Karena dari awal sudah terjawab. Ya karena kamu mampu. Karena Allah melihat usahamu. Mungkin saja usahamu belum maksimal. Atau mungkin kamu lebih mengandalkan usahamu sendiri, melupakan kekuatan Allah. Mencoba bersabar atas waktu pun, rasanya tak mudah. Apalagi muncul pertanyaan dari sekitar, "Kamu kapan?" Rasa rasanya aku ingin hilangkan kata 'kapan' ini dalam kamus KBBI. Banyak orang yang juga tak suka dengan pertanyaan bermula 'kapan'. Dikiranya kita yanh menentukan apa? Padahal kita cuma berusaha, Allah lah penulis skenario terbaik dalam hidup. Kita mah usaha sama tawakal, biar Allah yang menilai k...
Komentar
Posting Komentar