Langsung ke konten utama

Inginku.

Seperti biasa, ruang kelas ramai dengan anak kelas yang lag sibuk ngomongin sesuatu. Rani senidri ditengah keramaian itu. Diam. Sebuah novel yang ada ditangan Rani senantiasa menemaninya. Sejak siang tadi dia memang  tidak berniat untuk membaca novel. Enggan Rani mengambil novel yang bersampul biru itu dari dalam tasnya. Dengan malas, Rani menggerakan jarinya seperti seorang yang sedang membaca, membuka halaman demi halaman. Berlagak seperti sedang membaca buku, padahal hanya pendengarannyalah yang sedang berfungsi optimal.
“By the way, Angga anak kelas sebelah boleh juga tuh.”,celoteh Siska.
“Yang mana sih?”,sambut Fara, anak segeng dengan Siska.
Tak mungkin Rani menatap geng itu, apalagi ikut dalam pembicaraan mereka.Geng yang beranggotakan trio anak gaul dikelas Rani. Beranggotakan Siska sebagai ketua, Fara, dan Salsa. Mungkin seantero sekolah sudah tau geng itu. Anak-anak kaya, cantik, sukanya ngomongin orang, dan arogan, namun yang menjadikan mereka tidak dijauhi adalah mereka masih mementingkan sekolah mereka. Rani sering melihat mereka di perpustakaan sekolah. Tak hanya novel saja yang mereka pinjam, mereka juga meminjam buku-buku pelajaran. Nilai dikelas juga bagus-bagus, apalagi ketuanya, Siska. Siska selalu ranking satu di kelasnya, membuat iri pada anak kelas yang lain.
***
Hari ini jadwalnya Rani untuk mengembalikan buku diperpustakaan sekolah. Seperti biasa, setelah mengembalikan buku, Rani membaca-baca buku di pojok perpustakaan yang sangat jarang terjamah orang lain. Saat menuju pojok ruangan, Rani kaget, tidak menyangka, tempat favoritnya sudah ada orang lain yang mendiami tempat favoritnya itu dan dnegan keadaan yang membuat siapapun yang melihatnya, ingin menanyainya apa gerangan yang membuatkan begini. Siska rupanya, ia duduk di lantai dengan kaki yang ditekuk dan muka yang dibenamkan. Walaupun Rani tidak dekat dengan Siska, Rani juga masih punya hati sosial. Rani mendekati Siska, duduk didepan Siska menghadap Siska.
“Kamu kenapa Sis?”,tanya Rani perlahan.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Dua menit. Tak ada jawaban.
“Sis?”, ulang Rani.
Tak ada jawaban dari sang pemilik nama.mungkin Siska butuh sendiri, pikir Rani. Rani beranjak berdiri hendak meninggalkan Siska. Namun, saat itu juga, ada tangan yang mencegah Rani pergi. Memegang kuat tangan Rani.
Rani menoleh.
“Temani aku.”, pemilik nama yang tadi dipanggil Rani akhirnya mengeluarkan suara.
Rani yang hendak pergi meninggalkan Siska sendiri akhirnya urung. Mereka sekarang duduk bersebelahan.
“Kamu kenapa sis? Kamu boleh kok cerita sama aku. Janji nggak bakal cerita sama orang lain.”
“Tapi kamu bukan siapa-siapaku.”
“Anggaplah aku sebagai bonekamu sendiri, atau tembok. Asal kamu tidak nangis lagi.”
Rani yang biasanya pendiem,melihat temannya sperti itu, ia tidak tega. Jarang sekali dia bersuara. Apalagi dengan Siska. Ia sebenarnya takut bicara dengannya. Tapi ia lakukan demi Siska.
“Orang tua ku Ran ...”, Siska mulai mengatakan permasalahannya diiringi dengan isak tangis. Tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Rani tetep diam memahami keadaan.
“Orang tuaku ceria.”, isak tanginya tambah keras, namun Ia tetap berusaha agar tidak didengar orang lain.
Rani duduk terbatu. Tak bisa berkata-kata. Tak bisa membayangkan bagaimana jika dia diposisi Siska sekarang.
“Dulu orang tua ku sangat rukun, harmonis. Namun sejak Mama tau kalau Papa punya perempuan lain, keluargaku udah kayak kapal pecah. Tiap hari berantem. Pecahan piring, gelas berserakan dimana-mana. Mbok Iyem yang selalu ngeberesin itu. Aku selalu di kamar, ndengerin musik pake headset. Orang yang paling dekat dengan aku di rumah juga Mbok Iyem. Mbok Iyem yang tau perasaanku. Selalu ke kamarku untuk sekedar ngecek apa aku baik-baik saja setiap orangtuaku habis bertengkar. Dulu orangnya aku nggak gini. Aku berubah karena keadaan keluargaku yang sekarang ini. Iya sekarang aku tau, aku sombong, arogan, sukanya ngomongin cowok,nyebelin. Tapi aku masih mertahanin satu, aku tetep belajar. Karena dengan belajar dan juara, aku bisa ngumpul lagi sama orangtuaku. Orangtuaku selalu menghargai usahaku dalam hal akademik, mereka selalu ngadain syukuran kecil-kecilan, sekedar makan bersama diluar. Hanya itu yang membuat kami bisa bersama lagi.” Air mata Siska semakin deras.
Rani yang sejak tadi mendengarkan cerita panjang Siska yang selama ini tak Ia sangka. pipi Rani basah karena tak sadar Dia meneteskan air mata. Seketika itu juga Rani memeluk erat Siska. Memberi kekuatan baru untuk sahabat barunya. Tangis Siska semakin menjadi dalam pelukan Rani.
“Aku selalu ada untukmu, sahabat. Kita selalu bersama.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Masih) Hari Pertama

Hari pertama Perpram (Perkemahan Pramuka) sangat memberikan arti tersendiri bagiku. Aku mau bagi cerita nih tentang hari pertama Perpram. Berangkat dari sekolah sekitar pukul 13.30 dengan upacara pelepasan di Lapanagn Basket. Kami berangkat dengan menggunakan bus angkutan umum. Barang bawaan pribadi maupun kelompok, kita titipkan di pick up salah satu teman kami. Sepanjang perjalanan kami lalui dengan bersuka cita.  Sampai di bumi perkemahan Sinolewah kira-kira jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Kami disuruh segera mendirikan tenda dan bagi yang muslim untuk sholat ashar terlebih dahulu. Kami di suruh untuk saling membantu antar sangga dalam mendirikan tenda ini. Setelah tenda berdiri tegak, kami melaksanakan apel sebagai upacara pembukaan Perpram ini. Kami diberi waktu untuk ISHOMA sampai jam 19.30. Jelajah malam kami lakukan setelah ISHOMA. Nah, dalam jelajah inilah yang menurutku bagian paling seru. Jelajah malam dilakukan bersama sangga kita. Sebelumnya kita perkenalan ...

Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?

Keluar dari zona nyaman. Memang sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat-sangat sulit untuk dilakukan. Misalnya, jika kamu udah terbiasa di dalam lingkaran itu, padahal di luar banyak banget lingkaran –lingkaran di luar lingkaranmu itu. Tapi di lingkaran yang kamu diami itu kamu nggak bisa berkembang. Kamu ya kamu, nggak bisa melihat dunia luar. Diam di tempat. Nah biar kamu bisa berkembang kamu harus keluar dari lingkaran itu. Dengan kata lain keluarlah dari zona nyamanmu! Pengen berbagi cerita aja di postingan ini. Dulu waktu wawancara anak panti, mbak Isi namanya, ngasih pesan untuk kita. Dia berpesan, keluarlah dari zona nyamanmu. Sebelumnya aku juga pernah dengar dari temen, untuk menjadi lebih akrab dalam suatu kelompok cara ang paling ampuh adalah keluar dari zona nyaman. Pertama dengar kata-kata itu, aku masih kopong, nggak dong apa yang dimaksud, tapi setelah aku pahami, aku menyetujui bahkan sangat menyetujui pernyataan itu. Kemarin waktu ngumpul di KR, juga ditekani...