Seorang yang kuat, sabar, namun juga lembut hati nya. Mama. Ibu.
Bunda. Malaikat dunia yang dikirim Allah untuk menjagaku. Berjuang untukku. Besar
jiwamu untuk merawatku. Sejak aku masih dalam kandungan, kau rasakan sakit yang
sangat, tapi kau selau menahannya. Kau bersabar dengan rasa sakit itu, demi aku
agar dapat merasakan indahnya dunia ini. Hingga aku sudah lahir di dunia ini. Kasih
sayang itu semakin besar. Engkaulah yang menjadi guru pertama dalam hidupku,
mengajarkanku banyak hal. Jemariku yang usil selalu mengganggumu, namun kau
selalu sabar dan yakin bahwa suatu hari nanti, jemari usil itu menjadi tangan
yang berguna bagi keluarga, nusa bangsa, mayarakat kelak.
Sampai sekarang pun rasa kasih sayang itu tak pernah pudar. Engkau
tak mau buah hatimu sakit. Engkau selalu berusaha membuatku senang. Menghiburku
jika aku sedang sedih. Memberiku semangat, saat aku di titik nol.
Jika mendengar cerita perjuanganmu pada masa muda, rasanya
rasa lelah akan tugas-tugas tak terasa apa-apa. Tak sebanding perjuanganku jika
dibandingkan perngorbanan engkau. Senyummu yang tak langsung memberiku semangat
tersendiri. Semangatmu masih membara walau sudah menginjak usia setengah abad.
Benar jika orang mengatakan kasih ibu sepanjang masa. Tak akan
terbalaskan jasa mu dengan apapun, termasuk dengan harta. Pengorbanan ibu tak
akan terbayar dengan materi. Hanya kasih sayang kita lah yang dapat sedikit membalas
pengorbanan, kasih sayang, perjuanngan ibu untuk kita.
Jika aku ditanya siapa idolamu setelah Nabi Muhammad SAW,
mungkin jawabannya adalah ibuku. Ibu, engkaulah yang menjadi inspirasiku,
motivatorku selama ini. Senyum sederhanamu adalah semangatku, Ibu. Keridhaanmu
adalah harapanku, Bu.
Terimakasih guru, sahabat, teman, sahabat, idola, dan yang
jelas engkau adalah Ibuku. Membimbingku, mengajarkanku, menjadi pendengar yang baik
selama enam belas tahun ini. Tetaplah menjadi ibu terbaik dalam hidupku. Ibu.
Komentar
Posting Komentar