Langsung ke konten utama

Keridhaanmu adalah harapanku, Bu.



Seorang yang kuat, sabar, namun juga lembut hati nya. Mama. Ibu. Bunda. Malaikat dunia yang dikirim Allah untuk menjagaku. Berjuang untukku. Besar jiwamu untuk merawatku. Sejak aku masih dalam kandungan, kau rasakan sakit yang sangat, tapi kau selau menahannya. Kau bersabar dengan rasa sakit itu, demi aku agar dapat merasakan indahnya dunia ini. Hingga aku sudah lahir di dunia ini. Kasih sayang itu semakin besar. Engkaulah yang menjadi guru pertama dalam hidupku, mengajarkanku banyak hal. Jemariku yang usil selalu mengganggumu, namun kau selalu sabar dan yakin bahwa suatu hari nanti, jemari usil itu menjadi tangan yang berguna bagi keluarga, nusa bangsa, mayarakat kelak.
Sampai sekarang pun rasa kasih sayang itu tak pernah pudar. Engkau tak mau buah hatimu sakit. Engkau selalu berusaha membuatku senang. Menghiburku jika aku sedang sedih. Memberiku semangat, saat aku di titik nol.
Jika mendengar cerita perjuanganmu pada masa muda, rasanya rasa lelah akan tugas-tugas tak terasa apa-apa. Tak sebanding perjuanganku jika dibandingkan perngorbanan engkau. Senyummu yang tak langsung memberiku semangat tersendiri. Semangatmu masih membara walau sudah menginjak usia setengah abad.
Benar jika orang mengatakan kasih ibu sepanjang masa. Tak akan terbalaskan jasa mu dengan apapun, termasuk dengan harta. Pengorbanan ibu tak akan terbayar dengan materi. Hanya kasih sayang kita lah yang dapat sedikit membalas pengorbanan, kasih sayang, perjuanngan ibu untuk kita.
Jika aku ditanya siapa idolamu setelah Nabi Muhammad SAW, mungkin jawabannya adalah ibuku. Ibu, engkaulah yang menjadi inspirasiku, motivatorku selama ini. Senyum sederhanamu adalah semangatku, Ibu. Keridhaanmu adalah harapanku, Bu.
Terimakasih guru, sahabat, teman, sahabat, idola, dan yang jelas engkau adalah Ibuku. Membimbingku, mengajarkanku, menjadi pendengar yang baik selama enam belas tahun ini. Tetaplah menjadi ibu terbaik dalam hidupku. Ibu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memantaskan

Satu satu sudah Allah kasih kesempatan untuk melangkah lebih jauh, memberi manfaat yang seluas luasnya.  Sarjana sains. Dwri lubuk hati yang terdalam, tidak dapat dipungkiri bahwa ada keirian, tapi itu pasti.  "Kenapa aku belum?"  "Kenapa harus aku?"  "Kenapa Allah belum ngasih kesempatan?"  Banyak pertanyaan yang tak butuh jawaban. Karena dari awal sudah terjawab. Ya karena kamu mampu. Karena Allah melihat usahamu. Mungkin saja usahamu belum maksimal. Atau mungkin kamu lebih mengandalkan usahamu sendiri, melupakan kekuatan Allah. Mencoba bersabar atas waktu pun, rasanya tak mudah. Apalagi muncul pertanyaan dari sekitar, "Kamu kapan?" Rasa rasanya aku ingin hilangkan kata 'kapan' ini dalam kamus KBBI. Banyak orang yang juga tak suka dengan pertanyaan bermula 'kapan'. Dikiranya kita yanh menentukan apa? Padahal kita cuma berusaha, Allah lah penulis skenario terbaik dalam hidup. Kita mah usaha sama tawakal, biar Allah yang menilai k...

Hal baru itu menantang!

Menjadi anak kos selama enam bulan mengajarkan saya banyak pengalaman . Sebagai mantan anak kos, pastinya banyak kenganan-kenangan baik itu meyedihkan, memalukan, mengaharukan apalagi menyebalkan. Banyak peristiwa-peristiwa yang kita lalui bersama keluarga baru kita. Nah kali ini aku mau membahas kos-kosan pinter, nggak dodol lagi. Bakalan kita bahas tips, suka duka anak kos, tatacara menjadi anak kos yang baik dan benar. Sejak SMP aku pengen bisa sekolah di Jogja terus bisa ngekos, memasak, nyuci sendiri, bareng-bareng teman, seru-seruan bareng. Pengen hal baru, dan sepertinya ngekos tu seru soalnya bareng-bareng sama temen. Nggak keganggu sama izin ortu,wkwk. Dari SMP, aku sama temenku udah berniat satu kos-kosan bareng pas SMA. Tapi sayangnya, kita tidak satu sekolah. Sedih banget. Yaaahh. Awal masuk SMA aku sudah ditawarin sama orang tuaku, mau naik motor sendiri atau mau ngekos. Ya jelaslah aku mau ngekos. Sifatku yang menyukai hal-hal baru itu membuat keinginan untuk ngek...