Aku duduk di halte menunggu bus
Trans Jogja yang akan mengangkutku menuju halte dekat rumahku. Sore ini mendung
hitam menyelimuti kota ku. Aku tak bisa lama-lama berada di sekolah, sebelum
hujan turun, aku sudah harus berada di rumah atau setidaknya perjalanan pulang.
Sambil menunggu bus 2A sampai,
aku memutar lagu kesukaanku. Memutar lagu Dear Diary milik grup band Mocca
membuat suasana hati menjadi sedikit tenang. Namun masih saja gelisah karena
hujan segera turun. Aku tak menyukai hujan. Dulu aku sangat menyukai hujan,
karena bisa bermain air saat hujan. Tapi sejak dua tahun lalu, aku membenci
hujan. Ah sudahlah, aku tak ingin mengingat peritiwa dua tahun yang lalu.
Aku melihat sekeliling halte. Kendaraan
berlalu lalang dihadapanku. Tak ada yang ku kenali. Ku amati jalanan dari arah
gerbang sekolah. Aku melihat motor bebek warna hitam. Sepertinya aku mengenali
motor itu. Karel! Ya itu motor Karel. Kulihat dari jauh Karel memboncengkan
cewek berkedurung panjang. Mbak Nabila. Tak salah cewek itu Mbak Nabila. Entah kenapa
akhir-akhir ini sering kulihat mereka bersama. Motor itu berhenti di samping
halte. Menurunkan Mbak Nabila. Berbincang bincang sebentar. Aku pun penasaran
dengan apa yang mereka bicarakan.
“Sampai disini aja ya say, maaf
nggak bisa nganter sampai rumah.” kata Karel.
“Iya ga papa sayang. Makasih loh
udah mau repot-repot nganter sampai sini.”
Tertunduk. Tak sadar air mataku
jatuh membasahi pipiku. Dalam diam aku menghadapi kenyataan pahit ini. Karel
dan Mbak Nabila mempunyai hubungan khusus dan aku tak berhak apapun. Mereka yang
awalnya aku kira hanya sebatas teman. Atau hanya sahabat yang mempunyai hobi
yang sama. Namun tidak. Ternyata aku salah.
“Loh Farah kamu di sini. Belum pulang
juga?”
Aku mengusap air mataku. Menengok
ke arah sumber suara. Mbak Nabila. Sudah kuduga.
“Kamu kenapa nangis?”
“Aku nggak kenapa-napa kok Mbak.”
jawabku sambil tersenyum.
***
Komentar
Posting Komentar