Langsung ke konten utama

Dalam Diam (5)

Aku duduk di halte menunggu bus Trans Jogja yang akan mengangkutku menuju halte dekat rumahku. Sore ini mendung hitam menyelimuti kota ku. Aku tak bisa lama-lama berada di sekolah, sebelum hujan turun, aku sudah harus berada di rumah atau setidaknya perjalanan pulang.
Sambil menunggu bus 2A sampai, aku memutar lagu kesukaanku. Memutar lagu Dear Diary milik grup band Mocca membuat suasana hati menjadi sedikit tenang. Namun masih saja gelisah karena hujan segera turun. Aku tak menyukai hujan. Dulu aku sangat menyukai hujan, karena bisa bermain air saat hujan. Tapi sejak dua tahun lalu, aku membenci hujan. Ah sudahlah, aku tak ingin mengingat peritiwa dua tahun yang lalu.
Aku melihat sekeliling halte. Kendaraan berlalu lalang dihadapanku. Tak ada yang ku kenali. Ku amati jalanan dari arah gerbang sekolah. Aku melihat motor bebek warna hitam. Sepertinya aku mengenali motor itu. Karel! Ya itu motor Karel. Kulihat dari jauh Karel memboncengkan cewek berkedurung panjang. Mbak Nabila. Tak salah cewek itu Mbak Nabila. Entah kenapa akhir-akhir ini sering kulihat mereka bersama. Motor itu berhenti di samping halte. Menurunkan Mbak Nabila. Berbincang bincang sebentar. Aku pun penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
“Sampai disini aja ya say, maaf nggak bisa nganter sampai rumah.” kata Karel.
“Iya ga papa sayang. Makasih loh udah mau repot-repot nganter sampai sini.”
Tertunduk. Tak sadar air mataku jatuh membasahi pipiku. Dalam diam aku menghadapi kenyataan pahit ini. Karel dan Mbak Nabila mempunyai hubungan khusus dan aku tak berhak apapun. Mereka yang awalnya aku kira hanya sebatas teman. Atau hanya sahabat yang mempunyai hobi yang sama. Namun tidak. Ternyata aku salah.
“Loh Farah kamu di sini. Belum pulang juga?”
Aku mengusap air mataku. Menengok ke arah sumber suara. Mbak Nabila. Sudah kuduga.
“Kamu kenapa nangis?”
“Aku nggak kenapa-napa kok Mbak.” jawabku sambil tersenyum.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Masih) Hari Pertama

Hari pertama Perpram (Perkemahan Pramuka) sangat memberikan arti tersendiri bagiku. Aku mau bagi cerita nih tentang hari pertama Perpram. Berangkat dari sekolah sekitar pukul 13.30 dengan upacara pelepasan di Lapanagn Basket. Kami berangkat dengan menggunakan bus angkutan umum. Barang bawaan pribadi maupun kelompok, kita titipkan di pick up salah satu teman kami. Sepanjang perjalanan kami lalui dengan bersuka cita.  Sampai di bumi perkemahan Sinolewah kira-kira jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Kami disuruh segera mendirikan tenda dan bagi yang muslim untuk sholat ashar terlebih dahulu. Kami di suruh untuk saling membantu antar sangga dalam mendirikan tenda ini. Setelah tenda berdiri tegak, kami melaksanakan apel sebagai upacara pembukaan Perpram ini. Kami diberi waktu untuk ISHOMA sampai jam 19.30. Jelajah malam kami lakukan setelah ISHOMA. Nah, dalam jelajah inilah yang menurutku bagian paling seru. Jelajah malam dilakukan bersama sangga kita. Sebelumnya kita perkenalan ...

Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?

Keluar dari zona nyaman. Memang sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat-sangat sulit untuk dilakukan. Misalnya, jika kamu udah terbiasa di dalam lingkaran itu, padahal di luar banyak banget lingkaran –lingkaran di luar lingkaranmu itu. Tapi di lingkaran yang kamu diami itu kamu nggak bisa berkembang. Kamu ya kamu, nggak bisa melihat dunia luar. Diam di tempat. Nah biar kamu bisa berkembang kamu harus keluar dari lingkaran itu. Dengan kata lain keluarlah dari zona nyamanmu! Pengen berbagi cerita aja di postingan ini. Dulu waktu wawancara anak panti, mbak Isi namanya, ngasih pesan untuk kita. Dia berpesan, keluarlah dari zona nyamanmu. Sebelumnya aku juga pernah dengar dari temen, untuk menjadi lebih akrab dalam suatu kelompok cara ang paling ampuh adalah keluar dari zona nyaman. Pertama dengar kata-kata itu, aku masih kopong, nggak dong apa yang dimaksud, tapi setelah aku pahami, aku menyetujui bahkan sangat menyetujui pernyataan itu. Kemarin waktu ngumpul di KR, juga ditekani...