“Mau sih mau.”
“Apa tapinya?”
“Tau aja kalau ada tapinya."
Hening. Hanya suara jarum jam yang bergerak melakukan rutinitasnya.
"Tapinyaaa.. kamu juga harus mau jadi kakakku.”
Hening. Hanya suara jarum jam yang bergerak melakukan rutinitasnya.
"Tapinyaaa.. kamu juga harus mau jadi kakakku.”
***
Siang menjelang sore. Sehabis
pulang sekolah, menuju perpustakaan sekolah untuk sekedar refreshing sekaligus
belajar buat besok. Setelah menitipkan tas di penitipan tas, seperti biasa aku
memilih tempat duduk pojok yang sepi dari pengunjung. Uhh, ternyata sudah ada
penghuninya. Kakak kelas yang selama setahun terakhir ini aku suka sudah dengan
enjoynya duduk di kursi kesayanganku bersama buku yang dia pegang sambil
terantuk-antuk. Manis, putih keren walaupun banyak yang bilang pendek. Selama setahun
ini juga aku belum tahu namanya, maklum karena kita tidak seangkatan dan
menurutku nama itu tidaklah penting. Karena mencintai dalam diam akan lebih indah
daripada cinta yang terpublikasi.
Akhirnya aku pun duduk di seberang
kursi kesayanganku. Aku dengan kakak kelas cowok itu terpisah pojok dengan
pojok. Sesekali aku mengamatinya membolak balikan kertas yang ada di
pegangannya. Penasaran dengan apa yang biasa cowok seperti dia baca. Bersampul putih
agak kekuning-kuningan dengan tulisan hitam yang sudah berubah menjadi hitam kecoklatan
serta kertas yang sudah menjadi coklat karena termakan usia. Pelan tapi pasti aku
mulai mencoba merangkai judul buku yang dipegangnya sedari dulu. ‘Ibadah di
Bulan Ramadhan’. Oh ternyata buku itu. Ternyata dia itu alim. Setahuku kakak
kelas cowok itu sering bolos ke kantin, sering saat aku hendak ke kamar mandi
aku melihatnya bersama teman-temannya sedang bolos dan duduk-duduk bercanda
gurau. Tak kusangka sekarang berada di perpustakaan ini dan membaca buku
keagamaan seperti itu. Aku tak berkonsentrasi dengan buku yang tadi aku ambil
dari rak buku. Sedari tadi hanya aku bolak-balikan tampa memahami isinya.
“Maaf ya Rel, aku datengnya
terlambat.” Terdengar suara dari arah cowok itu.
Aku mendongakan kepala melihat ke
arahnya tentu dengan diam-diam. Mbak Nabila. Kulihat Mbak Nabila duduk di depan
nya cowok itu. Loh kenapa Mbak Nabila di sini juga? Apa hubungan mereka berdua? Apakah mereka pacaran?
Komentar
Posting Komentar