Langsung ke konten utama

Dalam Diam (4)

Tak sadar air mineral yang aku bawa jatuh vertikal ke lantai. Wadahnya pecah dan isinya pun  menyebar kemana-mana. Duh malu. Malu banget. Malu diliat Karel. Walaupun basahnya itu nggak seberapa tapi malunya itu,lebih dari basahnya. Ceroboh banget sih aku. Cuma gitu aja sampai tumpah airnya.
“Ihh Farah. Basah kan rokku.” Nana protes akan roknya yang basah gegara air mineral yang malang.
“Hehe. Maaf ya Na, nanti kering sendiri kok.”
Aku masih ngecek rokku yang kena air mineral. Nana juga sibuk dengan roknya. Tiba-tiba Karel berjalan ke arah kami, dengan tanggap segera memungut bangkai air minum yang isinya udah ga karuan. Membuangnya ke tempat sampah kantin. Dan berlalu pergi meninggalkan kami. Aku yang masih terbengong belum percaya kalau dia Karel setanggap itu. Aku yang harusnya yang membuang sampah itu malah asik dengan rokku. Setelah dirasa cukup, kami pun pergi meninggalkan kantin menuju ruang kelas.
“Kamu kok bisa gitu e Far? Kamu ada hubungannya sama Kak Farel?
Nana tiba-tiba mengagetkanku. Tapi, tungguuu. Yang dimaksud Kak Farel itu Karel kah? Tapi kalau bukan Karel yang di maksud siapa lagi? Yey, aku sudah menemukan potongan puzzle. Ternyata namanya Farel. Tapi aku tetep manggilnya Karel, lebih kereen.
“Far? Kok malah ngelamun?”
“Eh enggak kok Na, nggak ada hubungannya. Kakel kita kan?”
“Iyalah kakel kita. Gimana sih? Kamu suka sama Kak Farel ya?”
Deg. Kenapa Nana bisa secepat ini tau kalau aku suka sama Karel. Padahal aku belum pernah nyeritain ataupun tanya tentang Karel ke Nana. Hanya ku pendam sendiri dalam diam. Dan sekarang Nana menebak dengan tepat. Nggak mungkin aku jawab bohong. Tapi aku  juga nggak mau Nana tau secepat ini, masih ingin ku simpan dalam diamku.
“Ayo cepet Na, udah bel lho.” Ucapku pada Nana mengalihkan topik seraya mempercepat langkah menuju kelas XMIA 1,kelasku.
“Mengalihkan topik nih. Kak Farel sih emang udah terkenal banyak fansnya.”

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memantaskan

Satu satu sudah Allah kasih kesempatan untuk melangkah lebih jauh, memberi manfaat yang seluas luasnya.  Sarjana sains. Dwri lubuk hati yang terdalam, tidak dapat dipungkiri bahwa ada keirian, tapi itu pasti.  "Kenapa aku belum?"  "Kenapa harus aku?"  "Kenapa Allah belum ngasih kesempatan?"  Banyak pertanyaan yang tak butuh jawaban. Karena dari awal sudah terjawab. Ya karena kamu mampu. Karena Allah melihat usahamu. Mungkin saja usahamu belum maksimal. Atau mungkin kamu lebih mengandalkan usahamu sendiri, melupakan kekuatan Allah. Mencoba bersabar atas waktu pun, rasanya tak mudah. Apalagi muncul pertanyaan dari sekitar, "Kamu kapan?" Rasa rasanya aku ingin hilangkan kata 'kapan' ini dalam kamus KBBI. Banyak orang yang juga tak suka dengan pertanyaan bermula 'kapan'. Dikiranya kita yanh menentukan apa? Padahal kita cuma berusaha, Allah lah penulis skenario terbaik dalam hidup. Kita mah usaha sama tawakal, biar Allah yang menilai k...

Hal baru itu menantang!

Menjadi anak kos selama enam bulan mengajarkan saya banyak pengalaman . Sebagai mantan anak kos, pastinya banyak kenganan-kenangan baik itu meyedihkan, memalukan, mengaharukan apalagi menyebalkan. Banyak peristiwa-peristiwa yang kita lalui bersama keluarga baru kita. Nah kali ini aku mau membahas kos-kosan pinter, nggak dodol lagi. Bakalan kita bahas tips, suka duka anak kos, tatacara menjadi anak kos yang baik dan benar. Sejak SMP aku pengen bisa sekolah di Jogja terus bisa ngekos, memasak, nyuci sendiri, bareng-bareng teman, seru-seruan bareng. Pengen hal baru, dan sepertinya ngekos tu seru soalnya bareng-bareng sama temen. Nggak keganggu sama izin ortu,wkwk. Dari SMP, aku sama temenku udah berniat satu kos-kosan bareng pas SMA. Tapi sayangnya, kita tidak satu sekolah. Sedih banget. Yaaahh. Awal masuk SMA aku sudah ditawarin sama orang tuaku, mau naik motor sendiri atau mau ngekos. Ya jelaslah aku mau ngekos. Sifatku yang menyukai hal-hal baru itu membuat keinginan untuk ngek...