Tak sadar air mineral yang aku
bawa jatuh vertikal ke lantai. Wadahnya pecah dan isinya pun menyebar kemana-mana. Duh malu. Malu banget.
Malu diliat Karel. Walaupun basahnya itu nggak seberapa tapi malunya itu,lebih
dari basahnya. Ceroboh banget sih aku. Cuma gitu aja sampai tumpah airnya.
“Ihh Farah. Basah kan rokku.”
Nana protes akan roknya yang basah gegara air mineral yang malang.
“Hehe. Maaf ya Na, nanti kering
sendiri kok.”
Aku masih ngecek rokku yang kena
air mineral. Nana juga sibuk dengan roknya. Tiba-tiba Karel berjalan ke arah
kami, dengan tanggap segera memungut bangkai air minum yang isinya udah ga
karuan. Membuangnya ke tempat sampah kantin. Dan berlalu pergi meninggalkan
kami. Aku yang masih terbengong belum percaya kalau dia Karel setanggap itu.
Aku yang harusnya yang membuang sampah itu malah asik dengan rokku. Setelah
dirasa cukup, kami pun pergi meninggalkan kantin menuju ruang kelas.
“Kamu kok bisa gitu e Far? Kamu
ada hubungannya sama Kak Farel?
Nana tiba-tiba mengagetkanku.
Tapi, tungguuu. Yang dimaksud Kak Farel itu Karel kah? Tapi kalau bukan Karel
yang di maksud siapa lagi? Yey, aku sudah menemukan potongan puzzle. Ternyata
namanya Farel. Tapi aku tetep manggilnya Karel, lebih kereen.
“Far? Kok malah ngelamun?”
“Eh enggak kok Na, nggak ada
hubungannya. Kakel kita kan?”
“Iyalah kakel kita. Gimana sih?
Kamu suka sama Kak Farel ya?”
Deg. Kenapa Nana bisa secepat ini
tau kalau aku suka sama Karel. Padahal aku belum pernah nyeritain ataupun tanya
tentang Karel ke Nana. Hanya ku pendam sendiri dalam diam. Dan sekarang Nana
menebak dengan tepat. Nggak mungkin aku jawab bohong. Tapi aku juga nggak mau Nana tau secepat ini, masih
ingin ku simpan dalam diamku.
“Ayo cepet Na, udah bel lho.”
Ucapku pada Nana mengalihkan topik seraya mempercepat langkah menuju kelas XMIA
1,kelasku.
“Mengalihkan topik nih. Kak Farel
sih emang udah terkenal banyak fansnya.”
***
Komentar
Posting Komentar