Langsung ke konten utama

Dalam Diam (3)

Pagi ini kuawali pagi dengan bangun pagi-pagi tak seperti biasanya. Pukul 04.00 tepat handphoneku menyalak, membunyikan alarm yang sudah sejak tadi malam aku setel. Kuambil air wudhu di kamar mandi. Air wudhu yang dingin seperti air es membasuh wajahku, membangunkanku yang masih setengah sadar. Setelah wudhu, aku segera menuju mushola. Ku gelar sajadah warna ungu kesukaanku. Kudirikan sholat dua rakaat. Bersujud kepada Yang Maha Kuasa. Bercerita tentang cita-cita keinginan, menangis di atas sajadah.
Setelah sholat Tahajud dan melanjutkan shoat subuh, aku beranjak menuju kamar. Belajar materi untuk nanti dan mengulangi materi kemarin. Uhh, teringat kembali sepasang bola mata yang bertemu dengan sepasang bola mata. Mata yang teduh kemarin belum bisa hilang dari ingatanku. Menyejukkan. Mengingatnya, membuatku tak fokus pada materi yang aku baca. Semakin ingin menghilangkan bayangannya dari pikiranku, semakin ingatan itu kuat.
Akhirnya pagi ini tidak konsen belajar materi buat nanti. Waktu mengharuskanku untuk segera meninggalkan meja belajar. Aku menutup buku yang sedari tadi aku buka namun aku tak paham isinya beranjak menuju kamar mandi yang sudah menungguku sejak tadi.
***
Jam menunjukkan pukul 07.05. Yes, masih ada waktu lima menit sebelum bel tanda masuk berbunyi. Aku mengajak Nana, sahabatku untuk mengantarkan aku ke kantin membeli air mineral gelasan karena aku lupa membawa minum. Kami menuju kantin dnegan buru-buru, takut bel berbunyi mendahului kami masuk kelas. Kantin di sekolahku memang dekat dengan parkiran sekolah, jarak yang kami tempuh untuk bisa ke kantin lumayan jauh karena kelas kami berada di ujung selatan sedangkan kantin berada di ujung utara.
Saat menuju kantin, tak sengaja aku melihat gerbang yang hampir ditutup oleh Pak satpam, namun terhenti gegara seseorang memintanya membuka gerbang itu. Lantas Pak satpam pun membukanya dengan marah-marah dan memperingtkan agar esok tak lagi diulangi. Motor bebek yang pemiliknya tadi memintak Pak satpam untuk membukakan gerbang melaju dengan kecepatan tinggi. Bentaarr. Sepertinya aku mengenali wajah dibalik kaca helm itu. Tapi siapa? Aku mulai berpikir. Karel! Ya, itu Karel. Senangnya bisa melihat Karel pagi ini. Tanpa aku sadari ternyata sejak tadi aku senyam senyum sendiri seperti dunia ini milik sendiri.
“Kamu kenapa e Far. Dari tadi senyam senyum. Hayoo mikirin siapa?” Nana yang sedari tadi memerhatikanku senyam senyum sendiri akhirnya buka suara dengan nada menggoda.
“Eheh enggak kok. Aku nggak mikirin siapa-siapa. Mikirin kamu kali, kamu cantik.” jawabku sekenanya.
“Emang. Aku cantik dari lahir, baru tau. Week.”

Sampai di kantin aku segera mencomot air mineral yang sudah disusun oleh ibu kantin dimeja. Segera aku membayar dengan mata uang koin bergambar garuda bertuliskan 500 rupiah ini. Buru-buru aku kembali ke kelas karena bel sudah berbunyi saat aku membayar air mineral tadi. Keluar dari kantin dari arah barat ke arah timur. Dan disaat bersamaan, cowok yang membawa motor bebek yang sempat menjadi perhatianku pagi ini, berjalan dari parkiran yang arahnya utara menuju kelasnya yang arahnya selatan. Sontak aku kaget. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita Berbeda..

Aku tak tau mengapa semua jadi begini. Semenjak dia datang di kehidupanku, keluarga ini   jadi nggak perhatian lagi sama aku. Semua perhatian orangtuaku direbut dia. Pembawa sial. Kata orang, punya adek itu menyenangkan, tapi nggak bagiku. Hanya akan menjadi masalah aja. Entah kenapa dulu sebelum si pembawa sial itu lagi, Mama sama Papa sangat sayang padaku, tapi sekarang yang dipentingan dia. Kenapa ini terjadi padaku? Hari ini tanggal 18 Februari 2015 dan besok usiaku genap tujuh belas tahun. Sweet seven teen, orang bilang. Tahun terpenting dalam hidup. Pagi ini kuawali dengan bangun pagi-pagi terus mandi lalu ibadah sholat subuh. Nyiapin buat nanti sambil senyum-senyum bayangin hari besok. Pasti Mama Papa udah nyiapin aku surprise yang sampai nggak bisa aku bayangin.   Di rumah sepi, mungkin mereka mau nyiapin pestanya diluar rumah. Aaah, asik banget pesta diluar rumah. Rasanya udah nggak sabar pengen bertemu hari esok. Jam tanganku menunjukkan waktu 06.25. Aku s...

Hal baru itu menantang!

Menjadi anak kos selama enam bulan mengajarkan saya banyak pengalaman . Sebagai mantan anak kos, pastinya banyak kenganan-kenangan baik itu meyedihkan, memalukan, mengaharukan apalagi menyebalkan. Banyak peristiwa-peristiwa yang kita lalui bersama keluarga baru kita. Nah kali ini aku mau membahas kos-kosan pinter, nggak dodol lagi. Bakalan kita bahas tips, suka duka anak kos, tatacara menjadi anak kos yang baik dan benar. Sejak SMP aku pengen bisa sekolah di Jogja terus bisa ngekos, memasak, nyuci sendiri, bareng-bareng teman, seru-seruan bareng. Pengen hal baru, dan sepertinya ngekos tu seru soalnya bareng-bareng sama temen. Nggak keganggu sama izin ortu,wkwk. Dari SMP, aku sama temenku udah berniat satu kos-kosan bareng pas SMA. Tapi sayangnya, kita tidak satu sekolah. Sedih banget. Yaaahh. Awal masuk SMA aku sudah ditawarin sama orang tuaku, mau naik motor sendiri atau mau ngekos. Ya jelaslah aku mau ngekos. Sifatku yang menyukai hal-hal baru itu membuat keinginan untuk ngek...