Langsung ke konten utama

Dalam Diam (2)

Dua fakta yang aku dapatkan saat ini. Pertama, nama kakak kelas cowok yang aku suka selama setahun ini namanya ada kata ‘Rel’ nya. Fakta kedua yaitu, Mbak Nabila deket dengan Karel. Karel adalah sebutan untuk kakak kelas cowok itu. Karena nggak tau nama lengkapnya jadi aku panggil kakak kelas itu ‘Rel’. Dan karena itu kakak kelasku, wajib di tambahin ‘Kak’. Jadi aku kasih nama Karel, gabungan antara Kak dan Rel.
Mbak Nabila yang menurutku kakak kelas paling dekat dengan aku karena kami satu organisasi dan aku yakin dia paham betul batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan karena dia adalah pengurus remas di sekolah kami lagi berduaan di pojok perpustakaan sekolah dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.
Apa jangan jangan... Farah, stop negatif thinking! Bisa aja kan mereka diskusi tentang agama, ataupun pelajaran ataupun yang lainnya. Terserah mereka dong. Pikiranku beradu pendapat. Pikiranku mulai berprasangka buruk pada kedua kakak kelasku.
Aku terus mengamati mereka yang sudah jelas dengan diam-diam. Mereka tengah asik ngobrol membahas sesuatu sambil sekali mereka tertawa. ingin rasanya ikut gabung dalam pembicaraan asik itu.
“Nab, pindah yuk, jangan di perpus, banyak orang.” Karel mengajak Mbak Nabila keluar dari perpustakaan.
“Yaudah yuk.”  jawab Mbak Nabila.
Kulihat mereka beranjak pergi meninggalkan kursi kesayanganku menuju pintu keluar. Tunggu. Pintu keluar? Berarti mereka lewat sini dong?
“Eh Farah, tumben kamu di perpus.” sapa Mbak Nabila yang sudah ada di depanku.
Gegara terlalu asik berpura-pura membaca buku dengan menunduk kebawah biar ga ketahuan, jadinya malah gatau kalau Mbak Nabila sudah ada di depanku.
“Eh Mbak Nabila. Aku sering ya ke perpus, Mbak aja yang jarang liat aku di perpus. Soalnya Mbak ga pernah ke perpus. Weekk.” jawabku.
“Hehe. Tau aja.” jawab Mbak Nabila dengan muka kemerah merahan.
“Mbak Nabila ngapain ke perpus? Mau bureng ya?”
“Loh ngapain bureng ini kan udah habis UKK.”
“Oh iya yah. Terus ngapain dong.”
“Rahasia dong. Wekkk.” jawab Mbak Nabila sambil berlalu pergi dengan Karel.
Karel menatapku sebentar sebelum dia pergi. Mata kami bertemu sepersekian detik. Tanpa suara, tanpa ada yang memulai untuk sekedar menyapa. Namun aku segera sadar, kualihkan pandanganku kembali berpura-pura membaca buku lagi.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Masih) Hari Pertama

Hari pertama Perpram (Perkemahan Pramuka) sangat memberikan arti tersendiri bagiku. Aku mau bagi cerita nih tentang hari pertama Perpram. Berangkat dari sekolah sekitar pukul 13.30 dengan upacara pelepasan di Lapanagn Basket. Kami berangkat dengan menggunakan bus angkutan umum. Barang bawaan pribadi maupun kelompok, kita titipkan di pick up salah satu teman kami. Sepanjang perjalanan kami lalui dengan bersuka cita.  Sampai di bumi perkemahan Sinolewah kira-kira jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Kami disuruh segera mendirikan tenda dan bagi yang muslim untuk sholat ashar terlebih dahulu. Kami di suruh untuk saling membantu antar sangga dalam mendirikan tenda ini. Setelah tenda berdiri tegak, kami melaksanakan apel sebagai upacara pembukaan Perpram ini. Kami diberi waktu untuk ISHOMA sampai jam 19.30. Jelajah malam kami lakukan setelah ISHOMA. Nah, dalam jelajah inilah yang menurutku bagian paling seru. Jelajah malam dilakukan bersama sangga kita. Sebelumnya kita perkenalan ...

Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?

Keluar dari zona nyaman. Memang sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat-sangat sulit untuk dilakukan. Misalnya, jika kamu udah terbiasa di dalam lingkaran itu, padahal di luar banyak banget lingkaran –lingkaran di luar lingkaranmu itu. Tapi di lingkaran yang kamu diami itu kamu nggak bisa berkembang. Kamu ya kamu, nggak bisa melihat dunia luar. Diam di tempat. Nah biar kamu bisa berkembang kamu harus keluar dari lingkaran itu. Dengan kata lain keluarlah dari zona nyamanmu! Pengen berbagi cerita aja di postingan ini. Dulu waktu wawancara anak panti, mbak Isi namanya, ngasih pesan untuk kita. Dia berpesan, keluarlah dari zona nyamanmu. Sebelumnya aku juga pernah dengar dari temen, untuk menjadi lebih akrab dalam suatu kelompok cara ang paling ampuh adalah keluar dari zona nyaman. Pertama dengar kata-kata itu, aku masih kopong, nggak dong apa yang dimaksud, tapi setelah aku pahami, aku menyetujui bahkan sangat menyetujui pernyataan itu. Kemarin waktu ngumpul di KR, juga ditekani...