Dua fakta yang aku dapatkan saat
ini. Pertama, nama kakak kelas cowok yang aku suka selama setahun ini namanya
ada kata ‘Rel’ nya. Fakta kedua yaitu, Mbak Nabila deket dengan Karel. Karel
adalah sebutan untuk kakak kelas cowok itu. Karena nggak tau nama lengkapnya jadi
aku panggil kakak kelas itu ‘Rel’. Dan karena itu kakak kelasku, wajib di
tambahin ‘Kak’. Jadi aku kasih nama Karel, gabungan antara Kak dan Rel.
Mbak Nabila yang menurutku kakak
kelas paling dekat dengan aku karena kami satu organisasi dan aku yakin dia
paham betul batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan karena dia adalah
pengurus remas di sekolah kami lagi berduaan di pojok perpustakaan sekolah
dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.
Apa jangan jangan... Farah, stop
negatif thinking! Bisa aja kan mereka diskusi tentang agama, ataupun pelajaran
ataupun yang lainnya. Terserah mereka dong. Pikiranku beradu pendapat. Pikiranku
mulai berprasangka buruk pada kedua kakak kelasku.
Aku terus mengamati mereka yang
sudah jelas dengan diam-diam. Mereka tengah asik ngobrol membahas sesuatu
sambil sekali mereka tertawa. ingin rasanya ikut gabung dalam pembicaraan asik
itu.
“Nab, pindah yuk, jangan di
perpus, banyak orang.” Karel mengajak Mbak Nabila keluar dari perpustakaan.
“Yaudah yuk.” jawab Mbak Nabila.
Kulihat mereka beranjak pergi
meninggalkan kursi kesayanganku menuju pintu keluar. Tunggu. Pintu keluar? Berarti
mereka lewat sini dong?
“Eh Farah, tumben kamu di perpus.”
sapa Mbak Nabila yang sudah ada di depanku.
Gegara terlalu asik berpura-pura
membaca buku dengan menunduk kebawah biar ga ketahuan, jadinya malah gatau
kalau Mbak Nabila sudah ada di depanku.
“Eh Mbak Nabila. Aku sering ya ke
perpus, Mbak aja yang jarang liat aku di perpus. Soalnya Mbak ga pernah ke
perpus. Weekk.” jawabku.
“Hehe. Tau aja.” jawab Mbak
Nabila dengan muka kemerah merahan.
“Mbak Nabila ngapain ke perpus?
Mau bureng ya?”
“Loh ngapain bureng ini kan udah
habis UKK.”
“Oh iya yah. Terus ngapain dong.”
“Rahasia dong. Wekkk.” jawab Mbak
Nabila sambil berlalu pergi dengan Karel.
Karel menatapku sebentar sebelum
dia pergi. Mata kami bertemu sepersekian detik. Tanpa suara, tanpa ada yang
memulai untuk sekedar menyapa. Namun aku segera sadar, kualihkan pandanganku
kembali berpura-pura membaca buku lagi.
***
Komentar
Posting Komentar