Kini aku sudah genap satu tahun
lulus dari SMA, jenjang sekolah yang memberiku cerita-cerita manis hingga
cerita pahit. Aku duduk di gazebo tengah universitasku. Bernostalgia dengan
pikiranku saat aku SMA dulu. Mengingat sebegitu kuatnya hatiku menyimpan rasa
itu dalam diam. Tiba-tiba ponsel ku bergetar pendek, tanda sms masuk. Aku membuka
handphoneku. Kulihat layar utama pada handphoneku, sms dari Karel.
‘Kutunggu di taman tengah’ begitu
isi dari sms Karel.
Aku segera membereskan buku-buku
ku. Beranjak dari gazebo menuju taman tengah universitasku. Aku dan Karel kini
satu fakultas. Dia kakak tingkatku, dan aku adalah adek tingkat. Kami selisih dua
semester. Hubungan kami pun menjadi dekat, tidak seperti dua tahun yang lalu. Dua
tahun yang lalu, saat aku masih malu-malu dengan perasaan ini. Dua tahun yang
lalu saat Karel masih bersama dengan Mbak Nabila. Saat aku masih memendam rasa
ini dalam diam.
Kulihat dari jauh, seorang
laki-laki seperti sedang menunggu di kursi taman. Aku yakin itu Karel, ia
sedang menunggu kehadiranku. Aku menghampirinya. Karel yang sedang membaca
buku, merasakan kehadiranku. Ia menaruh buku yang ia baca tadi, menutupnya. Aku
duduk di sampingnya. Aku memandanginya, maksudku memepertanyakan tujuanku
kemari. Namun Karel tidak menjawab dan membalas pandanganku. Mata kita bertemu!
Aku sangat menikmati detik-detik ini, jantungku berdebar lebih kencang. Namun
aku segera tersadar, kualihkan pandanganku ke depan.
“Aku ngapain kamu suruh ke sini?”
tanyaku.
“Kamu mau nggak jadi adekku?”
Deg. Aku menengok ke arahnya. Karel menunggu masih menunggu jawabanku. Aku tahu yang ia maksud adek
itu bukan hanya sebatas adek kelas, maupun adek tingkat. Bukan juga tentang
senior ataupun junior.
“Mau sih mau.”
“Apa tapinya?”
“Tau aja kalau ada tapinya.
Hening tanpa suara. Hanya suara
jarum yang melakukan rutinitasnya.
“Tapinyaaa.. kamu juga harus mau
jadi kakakku.”
END
END
Komentar
Posting Komentar