Langsung ke konten utama

Dalam Diam (6)

Kini aku sudah genap satu tahun lulus dari SMA, jenjang sekolah yang memberiku cerita-cerita manis hingga cerita pahit. Aku duduk di gazebo tengah universitasku. Bernostalgia dengan pikiranku saat aku SMA dulu. Mengingat sebegitu kuatnya hatiku menyimpan rasa itu dalam diam. Tiba-tiba ponsel ku bergetar pendek, tanda sms masuk. Aku membuka handphoneku. Kulihat layar utama pada handphoneku, sms dari Karel.
‘Kutunggu di taman tengah’ begitu isi dari sms Karel.
Aku segera membereskan buku-buku ku. Beranjak dari gazebo menuju taman tengah universitasku. Aku dan Karel kini satu fakultas. Dia kakak tingkatku, dan aku adalah adek tingkat. Kami selisih dua semester. Hubungan kami pun menjadi dekat, tidak seperti dua tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu, saat aku masih malu-malu dengan perasaan ini. Dua tahun yang lalu saat Karel masih bersama dengan Mbak Nabila. Saat aku masih memendam rasa ini dalam diam.
Kulihat dari jauh, seorang laki-laki seperti sedang menunggu di kursi taman. Aku yakin itu Karel, ia sedang menunggu kehadiranku. Aku menghampirinya. Karel yang sedang membaca buku, merasakan kehadiranku. Ia menaruh buku yang ia baca tadi, menutupnya. Aku duduk di sampingnya. Aku memandanginya, maksudku memepertanyakan tujuanku kemari. Namun Karel tidak menjawab dan membalas pandanganku. Mata kita bertemu! Aku sangat menikmati detik-detik ini, jantungku berdebar lebih kencang. Namun aku segera tersadar, kualihkan pandanganku ke depan.
“Aku ngapain kamu suruh ke sini?” tanyaku.
“Kamu mau nggak jadi adekku?”
Deg. Aku menengok ke arahnya. Karel menunggu masih menunggu jawabanku. Aku tahu yang ia maksud adek itu bukan hanya sebatas adek kelas, maupun adek tingkat. Bukan juga tentang senior ataupun junior.
“Mau sih mau.”
“Apa tapinya?”
“Tau aja kalau ada tapinya.
Hening tanpa suara. Hanya suara jarum yang melakukan rutinitasnya.

“Tapinyaaa.. kamu juga harus mau jadi kakakku.”

                                                                          END

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita Berbeda..

Aku tak tau mengapa semua jadi begini. Semenjak dia datang di kehidupanku, keluarga ini   jadi nggak perhatian lagi sama aku. Semua perhatian orangtuaku direbut dia. Pembawa sial. Kata orang, punya adek itu menyenangkan, tapi nggak bagiku. Hanya akan menjadi masalah aja. Entah kenapa dulu sebelum si pembawa sial itu lagi, Mama sama Papa sangat sayang padaku, tapi sekarang yang dipentingan dia. Kenapa ini terjadi padaku? Hari ini tanggal 18 Februari 2015 dan besok usiaku genap tujuh belas tahun. Sweet seven teen, orang bilang. Tahun terpenting dalam hidup. Pagi ini kuawali dengan bangun pagi-pagi terus mandi lalu ibadah sholat subuh. Nyiapin buat nanti sambil senyum-senyum bayangin hari besok. Pasti Mama Papa udah nyiapin aku surprise yang sampai nggak bisa aku bayangin.   Di rumah sepi, mungkin mereka mau nyiapin pestanya diluar rumah. Aaah, asik banget pesta diluar rumah. Rasanya udah nggak sabar pengen bertemu hari esok. Jam tanganku menunjukkan waktu 06.25. Aku s...

Hal baru itu menantang!

Menjadi anak kos selama enam bulan mengajarkan saya banyak pengalaman . Sebagai mantan anak kos, pastinya banyak kenganan-kenangan baik itu meyedihkan, memalukan, mengaharukan apalagi menyebalkan. Banyak peristiwa-peristiwa yang kita lalui bersama keluarga baru kita. Nah kali ini aku mau membahas kos-kosan pinter, nggak dodol lagi. Bakalan kita bahas tips, suka duka anak kos, tatacara menjadi anak kos yang baik dan benar. Sejak SMP aku pengen bisa sekolah di Jogja terus bisa ngekos, memasak, nyuci sendiri, bareng-bareng teman, seru-seruan bareng. Pengen hal baru, dan sepertinya ngekos tu seru soalnya bareng-bareng sama temen. Nggak keganggu sama izin ortu,wkwk. Dari SMP, aku sama temenku udah berniat satu kos-kosan bareng pas SMA. Tapi sayangnya, kita tidak satu sekolah. Sedih banget. Yaaahh. Awal masuk SMA aku sudah ditawarin sama orang tuaku, mau naik motor sendiri atau mau ngekos. Ya jelaslah aku mau ngekos. Sifatku yang menyukai hal-hal baru itu membuat keinginan untuk ngek...