Langsung ke konten utama

(Masih) Hari Pertama


Hari pertama Perpram (Perkemahan Pramuka) sangat memberikan arti tersendiri bagiku. Aku mau bagi cerita nih tentang hari pertama Perpram. Berangkat dari sekolah sekitar pukul 13.30 dengan upacara pelepasan di Lapanagn Basket. Kami berangkat dengan menggunakan bus angkutan umum. Barang bawaan pribadi maupun kelompok, kita titipkan di pick up salah satu teman kami. Sepanjang perjalanan kami lalui dengan bersuka cita. 

Sampai di bumi perkemahan Sinolewah kira-kira jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Kami disuruh segera mendirikan tenda dan bagi yang muslim untuk sholat ashar terlebih dahulu. Kami di suruh untuk saling membantu antar sangga dalam mendirikan tenda ini. Setelah tenda berdiri tegak, kami melaksanakan apel sebagai upacara pembukaan Perpram ini. Kami diberi waktu untuk ISHOMA sampai jam 19.30. Jelajah malam kami lakukan setelah ISHOMA. Nah, dalam jelajah inilah yang menurutku bagian paling seru. Jelajah malam dilakukan bersama sangga kita. Sebelumnya kita perkenalan dulu dengan kelompok kami, kami adalah regu Penegas 7 kelompok merah yang ditempatkan di kavling 15 dan beranggotakan delapan orang yang terdiri dari Tista sebagai ketua regu, Farah, Dila,Hayu, Tiwi, Rosa, Khansa, dan yang terakhir aku. Yang tentunya kami tidak satu kelas. Jelajah malam kali ini dilakukan dengan sistem pos-pos gitu, jadi kita mengunjungi pos 1 sampai pos 6 dan kembali lagi ke perkemahan. 

Pos satu kami menyanyikan yel yel kelompok kami. Kami penegas tujuh, dari Delayota, kavling lima belas, kelompok merah. Kami penegas tujuh, dari Delayota, ikut perkemahan, dengan suka cita. Begitulah kira-kira yel-yel kami, kami menyanyikan yel-yel tersebut dengan lagu Goyang Dumang. Di pos satu inilah kami diberi potongan puzzle lambang negara kita, yaitu Burung Garuda. 

Pos kedua adalah pos menjawab pertanyaan. Tapi karena sangga yang akan ke pos tersebut menumpuk, mengharuskan kami menunggu sangga sebelumnya menyelesaikan tugas di pos tersebut. Saat sangga kami menunggu terpanggil, kami iseng mendngarkan apa yang dikatakan oleh kakak-kakak DA. Kami tidak sengaja mendengar apa yang ditanyakan oleh kakak-kakak DA, sekaligus jawaban tersebut. Sangga kami terus menghafalkan jawaban tersebut, dan berencana agar nanti kalau ditanyakan, kita pura-pura lupa. Nah setelah kelompok kami terpanggil dan kakak-kakak DA mulai menanyakan pertanyaan yang sama seperti sangga sebelumnya, kami pura- pura lupa dan pura-pura mengeja jawaban tersebut. Akhirnya misi kami berhasil tanpa diketahui oleh kakak-kakak DA yang berjaga di pos tersebut.

Di pos ketiga kita disuruh duduk berjejer, satu shaf. Kami diberi tugas untuk menyebutkan nama lengkap teman di sebelah kiri kami. Karena kami salah dalam menyebutkan 2 nama lengkap teman kami, kami dihukum dengan menyerahkan barang berharga kami. Kami diberi pilihan unruk menyerahkan puzzle yang diberikan kakak-kakak DA, atau menyerahkan barang yang menurut kami berharga. Aku menawarkan permen kopi, menurutku permen kopi berharga karena dengan permen kopi terseut, kami menjadi tidak mengantuk. Tapi tawaranku ditolak mentah-mentah, karena tiga permen kopi tak sebnding dengan potongan puzzle garuda. Kami sempat menawarkan jaket kami, namun mereka menginginkan kalau hukuman itu jaket, kita harus menyerahkan semua jaket yang kami kenakan. Otak kami mulai berfikir keras, kalau kkta serahkan jaket, pasti banyak yang kedinginan dan malah dapat berakibat sakit. Saat mulai dihitung mundur, mataku menemukan sesuatu barang yang melingkar pada tanganku. Wristband Delayota! Ya menurutku itu adalah barang berahrga yang aku bawa sekarang. Kakak yang jaga pos pun memperbolehkan kami menggunakan wristband tersebut sebagai hukuman kami karena kami tidak melaksanakan tugas dengan baik.

“Kak, itu barangnya bisa balik enggak?” tanyaku.
“Ya tergantung aku.”

Aku pun hanya mengikhlaskan wrisband Delayotaku untuk menebus hukuman kami. Kami melanjutkan perjalanan kami ke pos selanjutnya. Kami menyesal mengapa tidak menghafalkan nama lengkap anggota satu sangga sendiri. Baru beberapa langkah, kakak yang jaga pos tersebut memanggil kami. 

“Ini ada yang ketinggalan.” Katanya seraya menyerahkan dua buah wristband kebanggaan kami. 

Perasaanku campur aduk antara seneng banget, masih enggak nyangka, kaget, terharu. Pokoknya ga bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Sebenarnya setelah itu masih banyak lagi kegiatan yang kami ikuti di dalam KAT (Kemah Akhir Tahun) kali ini, tapi karena terlalu banyak cerita yang bisa dibagi, jadinyakita akhiri tulisan ini, dan semoga bisa disambung dilain waktu. Perkemahan ini mungkin menjadi perkemahan tak terlupakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?

Keluar dari zona nyaman. Memang sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat-sangat sulit untuk dilakukan. Misalnya, jika kamu udah terbiasa di dalam lingkaran itu, padahal di luar banyak banget lingkaran –lingkaran di luar lingkaranmu itu. Tapi di lingkaran yang kamu diami itu kamu nggak bisa berkembang. Kamu ya kamu, nggak bisa melihat dunia luar. Diam di tempat. Nah biar kamu bisa berkembang kamu harus keluar dari lingkaran itu. Dengan kata lain keluarlah dari zona nyamanmu! Pengen berbagi cerita aja di postingan ini. Dulu waktu wawancara anak panti, mbak Isi namanya, ngasih pesan untuk kita. Dia berpesan, keluarlah dari zona nyamanmu. Sebelumnya aku juga pernah dengar dari temen, untuk menjadi lebih akrab dalam suatu kelompok cara ang paling ampuh adalah keluar dari zona nyaman. Pertama dengar kata-kata itu, aku masih kopong, nggak dong apa yang dimaksud, tapi setelah aku pahami, aku menyetujui bahkan sangat menyetujui pernyataan itu. Kemarin waktu ngumpul di KR, juga ditekani...